Rangkaian Biji Kopi Bernilai Seni

Menanam, memanen, proses pascapanen, digiling hingga disajikan di dalam sebuah cangkir, mungkin adalah proses yang sudah umum dan banyak diketahui orang lain. Namun, ada satu proses yang berbeda. Jika biasanya kopi diolah sebaik mungkin untuk dinikmati dan manfaatnya dapat diserap tubuh dengan baik, proses yang satu ini justru untuk tidak dikonsumsi (dimakan atau diminum), melainkan dijadikan hiasan.
Ya, biji kopi tersebut diolah menjadi produk kerajinan tangan. Ternyata, selain kesenian latte art di atas kopi, biji kopi itu sendiri sudah memiliki nilai seni. Mulai dari bentuk, warna, dan aromanya yang khas, biji kopi dapat disusun atau dirangkai menjadi beragam aksesoris, mulai dari kalung, gelang, pengganti batu cincin, tasbih, wadah alat tulis, hingga menjadi sebuah lukisan.
Bagaimana dengan harganya? Jika sudah disebut kerajinan tangan, pastilah dibuat menggunakan tangan (handmade) tanpa bantuan mesin otomatis. Kerumitan pembuatan serta kualitas biji kopi yang digunakan akan mempengaruhi harga produk, semakin bagus, maka semakin tinggi pula harganya. Termasuk alat yang dipilih, seperti jarum, benang, tali, atau lem yang digunakan jangan sampai merusak biji kopi tersebut. Untuk membuat kalung atau tasbih misalnya, biji kopi harus dilubangi terlebih dahulu agar dapat dirangkai dengan tali atau benang. Melubangi biji kopi yang belum disangrai mungkin sedikit mudah karena teksturnya yang masih lunak, sedangkan yang sudah disangrai harus lebih hati-hati karena sudah menjadi lebih keras. Begitu pula dengan lukisan, lem yang digunakan untuk menyatukan biji-biji sehingga membentuk karakter wajah seseorang atau pemandangan tersebut sebaiknya tidak bersifat panas dan berbau menyengat, karena akan merusak biji dan aroma khas kopi pun akan hilang. Untuk mengurangi resiko rusaknya biji kopi, pengrajin dapat menambahkan campuran berupa lapisan lilin yang mengkilap di setiap biji agar terlihat lebih menarik dan tahan lebih lama.
Kerajinan tangan biji kopi ini sendiri sudah banyak tersebar di berbagai daerah di Indonesia, terutama wilayah-wilayah penghasil kopi. Selain memperluas lapangan kerja, kerajinan tangan ini juga dapat mengurangi penumpukan limbah organik. Contoh kasusnya adalah, jika panen mengalami kegagalan dan biji kopi tidak memenuhi standar untuk diolah menjadi minuman, yang mana jika dijual dalam bentuk bubuk pun harganya jauh lebih murah, maka produk handmade asalah salah satu solusinya. Dengan menambahkan zat pengawet dan lapisan lilin, biji kopi dengan defect yang beragam pun dapat memiliki harga jual. (Windy)